Nilai atau Kebutuhan

Menulis tentang ini berawal dari saya membaca trit di kaskus (tapi sayang lupa linknya, sudah dicari tapi tidak ketemu). Trit tersebut membahas tentang dirinya diejek karena tidak memakai handphone yang katanya canggih, ya apalagi kalau bukan BlackBerry. Saat dia diejek meminta alasan mengapa harus memakai BlackBerry, kata yang mengejek ” ya biar keren aja, smua orang juga pake BlackBerry”. Ternyata bukan alasan logis dan masuk akal.

Inilah yang menggangu pikiran dan selalu mencari contoh disekitar. Sebetulnya bukan masalah pemakaian BlackBerry dan saya juga bukan orang yang membenci BlackBerry. Yang saya dipikirkan adalah adanya hal yang berubah dalam kehidupan, ternyata lebih berharga nilai dibandingkan sebuah kebutuhan. Sebuah contoh kecil tadi bisa kita analisis, seorang yang mobile atau mempunyai banyak aktifitas tentunya membutuhkan sebuah alat yang menunjang aktifitasnya tentunya BlackBerry cocok untuknya. Nah sekarang coba perhatikan anak SD pun sudah memakai BlackBerry, agak miris ya dan saya yakin gadget tersebut tidak digunakan secara maksimal. Lalu apa yang dikejar, ya kembali sebuah ‘nilai’.
Ternyata pemenuhan kebutuhan bukan nomor satu tapi nilai di mata orang lain menjadi hal yang sangat berharga. Nah kalau kita berpikir sehat dan rasional, pemenuhan penilaian itu hanya sementara dan akan terus berubah, artinya jangan terlau mengikuti tren tapi sesuai dengan kebutuhan. Kalau dirasa dibutuhkan maka segera diadakan, walaupun terkadang sulit.
Saya merasa beruntung karena dapat menilai dengan sehat antara nilai dan kebutuhan. Mungkin pembiasaan sejak kecil oleh orang tua berpengaruh juga. Saya diajarkan bagaimana merawat barang dengan baik dan mengganti barang kalau memang sudah berguna. Saya ingat dulu waktu minta sama bapak supaya dibelikan televisi baru, bapak bilang “buat apa beli televisi baru…toh ini masih bisa ditonton, kan acara sama saja sama televisi model baru”. Dan pada akhirnya televisi akhirnya rusak dan beli yang baru, tapi kali tidak tanggung-tanggung langsung beli dua. Ternyata biar tidak ribut terus maka dibeli dua sekaligus.
Saat pembelian komputer juga sama, saya dibelikan pada saat lulus SMA dan sangat berguna untuk tugas-tugas kuliah. Mungkin dulu kalau dibelikan saat SMP atau SMA tidak terlalu berguna, karena jaman saya SMP atau SMA jarang membutuhkan komputer untuk tugas.
Silahkan menentukan sendiri…’bijak dalam berpikir dan bertindak’

Satu Tanggapan

  1. saya juga sama nsibnya,smua teman saya pake BB tpsaya tidak. klo saya memang orangnya tidak suka ikut trend,saya lebih melihat apakah perlu,dan lagipula beda sendiri itu biak. tidak seragam.toh saya pernah menanyakan teman saya yang baru beli BB sebulan”Gmn rasanya pake BB” lalu dia menjawab “Ahh bosen gitu2 doang”.memang ada nilai positif dan negatif dari BB.tp itu sudah wajar.be different its cool

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: