surat tuk Hayati

digital-photography-4q

Adinda Hayati,

Nasib Adinda adalah lebih beruntung daripada nasibku, Adinda masih dapat melihat dangau tempat kita bertemu , sawah tempat kita bermain,halaman luas tempat Adinda menjemurkan padi, ketika dagang melarat ini dapat melihatmu duduk termenung mengoyang-goyang panggalan dari talang masak; semuanya dapat kau lihat. Sedang saya sendiri, dari jauh menarik nafas panjang dan mengeluh,sebab alam sekelilingku yang ramai bagi orang lain, sepi rasanya bagi diriku. Sejak meninggalkan Batipuh, terasa benar olehku bahwa saya seorang dagang di sini, jauh dari kampong halaman,jauh dari tanah darah tertumpah. Sedangkan di Batipuh saya tak diakui orang sama,kononlah di dalam kota begini, yang hidup manusia “siapa lu,siapa gua.”

Adinda Hayati! Petaruhmu seketika saya berangkat,masih kugenggam erat, masih kupegang teguh. Begini sulit, begini gelap dan samar haluan yang akan kuturut, namun saya tak pernah putus asa, sebab masih berdenging dalam teingaku rasanya petaruhmu, menyuruh berani, menyuruh tetap hati, keras kemauan dan sabar menempuh kesulitan hidup. Kalau bukan karena itu, telah putus asa saya menghadapi pahit hidup, mau agaknya menyesali nasib, tersesat kepada dosa yang Mahabesar, yakni mengumpat Tuhan, menyalahi takdir.

Janjimu, bahwa jasmani dan rohani,telah dipatrikan oleh kasih cinta dengan daku, adalah modalku yang paling mahal. Biarlah dunia ini karam, biarlah alam ini gelap, biarlah….biarlah seluruh manusia melengongkan mukanya ke tempat lain bila bertemu dengan aku, biarlah segenap kebencian memenuhi hati insan terhadap kepada diriku, dan saya menjadi tumpahan kejemuan hati manusia, namun saya tak merasa berat menanggungkan itu semuanya, sebab kau telah bersedia untukku. Hayati! Kirimi saya surat banyak-banyak, terangkan kepadaku perkara-perkara, baik yang kecil atau yang besar, bujuk aku, sesali aku, marahi kalau kau pandang baik. Ketahuilah bahwa dengan demikian, aku akan merasa keindahan dan kelezatan bercerai-berai, ganti dari keindahan bertemu.

Dan biarlah Tuhan Allah memberi perlindungan bagi kita semuanya.

Zainudin

Dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: